MALANG – Ajang Asian Games 2018 yang baru lalu, menyisakan kebanggaan bagi UIN Maliki. Salah satu mahasiswi UIN Maliki juga ikut berpartisipasi dalam ajang Asian Games 2018. Dia adalah Ilma Yeni Megawati yang mengikuti cabang bela diri ju-jitsu. Olahraga asal Jepang ini bagian dari beladiri ekstrim dan mematikan.
“Pada pertandingan itu resikonya cukup bahaya karena sistemnya yakni seluruh anggota tubuh bergerak, mulai dari teknik pukul, tendang, banting, dan kunci-kuncian,” ujar Ilma Yeni Megawati.
Mahasiswa jurusan Teknik Arsitektur ini mengungkapkan, pertandingan ju-jitsu di Asian Games itu sebagai cikal bakal olahraga bela diri itu naik daun di Indonesia. Sebab, baru tahun lalu ju-jitsu diakui di Indonesia. Untuk itu, dia lebih bersemangat mengikuti kompetisi itu dengan 16 atlet lainnya. 
“Yang dipertandingkan adalah teknik kunci-kuncian dan saya hanya belajar itu selama delapan bulan saja,” bebernya.
Tak heran jika mahasiswa yang akrab disapa Yeni ini terpilih. Sebelumnya telah menjuarai 15 kali fighting sistem baik pertandingan tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional. Uniknya, pada pertandingan ju-jitsu tak memandang tingkatan level.
Seperti pengalaman yang dia bagikan saat Asian Games dengan menghadapi musuhnya yang telah delapan tahun berlatih dan beberapa kali menjuarai kejuaraan dunia. Terbiasa mental petarung, maka para atlet akan mudah menguasai sesuatu.
“Di Asian Games, para atlet ju-jitsu tak pernah takut karena terbiasa bertanding. Bahkan, dalam pertandingan siapapun bisa menang,” terangnya.
Begitu besar perjuangan Yeni dalam mengikuti pertandingan, bahkan dia rela cuti kuliah demi Asian Games. Meski belum mampu membawa pulang medali untuk Indonesia, namun UIN Maliki tetap mengapresiasi hasil kerja kerasnya dengan mendapat piagam khusus dari rektorat.
Tak berhenti dari sana, Yeni pun digadang-gadang sebagai atlet untuk pertandingan Sea Games 2019 di Filipina pada November mendatang, termasuk ditargetkan berpartisipasi kembali di ajang Asian Games pada 2022 di China.
“Tentu saya semakin termotivasi karena berpeluang untuk mengasah potensi lagi. Kemarin masih kalah hanya karena jam terbang kurang tinggi,” tutup wanita yang menggeluti olahraga ini sejak SMP. (ita/aim)
000363
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
134
56
190
0
363
0
363
Your IP: 54.159.51.118
2018-12-17 19:36